"Bila bisa menjadi bagian dari solusi, lalu kenapa masih hanya memaki?"

Jun 15, 2015

Project #5: Waingapu

11:18 AM Posted by Donasi Buku No comments
Sumba, bukan Sumbawa, merupakan salah satu pulau besar yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dua bulan yang lalu, project ke 5 kami yaitu #DonasiBukuWaingapu akhirnya membawa kami menjejak tanah Sumba. Setelah di hari sebelumnya kami terpaksa harus membeli tiket pesawat komersil karena terjadi miskomunikasi terkait reschedule penerbangan pesawat Hercules yang kami harapkan bisa membawa kami dan buku-buku.

Dan percayalah, over bagasi lebih dari 100 kg sungguh tidak ramah pada kesehatan degup keuangan kami. Jadi dengan sangat terpaksa, kami harus meninggalkan beberapa dus buku dan hanya bisa membawa sekitar 4 dus dan 1 tas full buku agar bisa masuk kabin pesawat.

Kamis, 26 Maret 2015, Tim #DonasiBukuWaingapu dari Jakarta yaitu Metha, Rida, dan Bayu tiba di Sumba sekitar pukul 12.00 WITA. Sesampainya di Bandara Umbu Mehang Kunda, ada seorang petugas bandara yang (mohon maaf) agak lupa namanya yang dengan senang hati menemani kami yang masih harus menunggu dijemput Vany dan Kak Jonathan. Selain beliau ada juga Kak Bambang, seorang teman dari teman (sebut saja temanception) yang juga menemani kami berbincang.

Seperti yang sudah pernah kami ceritakan di sini, ada 6 taman baca yang menjadi target project kami kali ini. Namun ternyata Taman Baca Kawangu saat ini sedang non aktif sehingga kemarin kami hanya mendatangi 5 taman baca. Dan berikut ini paparan singkatnya.


1.       Taman Baca Namu Angu

Sesampainya kami di Bandara Umbu Mehang Kunda, sore harinya kami langsung menuju Taman Baca Namu Angu. Taman baca ini diinisiasi oleh pemuda-pemudi Sumba yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Sumba (GPS). Dan bisa dikatakan Taman Baca Namu Angu ini merupakan pelopor berdirinya rumah baca di Sumba Timur.




Taman Baca Namu Angu dikelola oleh Vany karena memang taman baca ini ada di rumahnya. Sore itu saat kami datang, kami bisa melihat antusiasme adik-adik dalam membaca buku. Satu persatu dari mereka datang meramaikan sore. Ada yang datang membawa buku untuk dikembalikan dan ditukar dengan buku lainnya yang belum mereka baca, beberapa hanya membaca buku di tempat, ada juga yang menggambar, beberapa anak juga terlihat asik bermain.

Sore di Taman Baca Namu Angu begitu ramai, taman baca terlihat begitu hidup. Hanya saja karena kami agak tepar karena belum tidur dari malam sebelumnya, jadilah dokumentasi di Taman Baca Namu Angu sangat sedikit.







2.       Taman Baca Kampung Barat

Keesokan harinya barulah kami mulai mendatangi keempat taman baca lainnya. yang pertama kami kunjungi adalah Taman Baca Kampung Barat. Taman baca ini dikelola oleh Kak Ma’a dan suami. Saat kami datang hujan sedang turun dengan derasnya, namun di teras rumah Kak Ma’a kami melihat sudah ada beberapa anak yang menunggu kedatangan kami, atau mungkin menunggu kedatangan koleksi buku baru mereka.

Kak Ma’a bercerita pada kami, taman baca ini sempat agak tersendat. Bukan karena Kak Ma’a dan suami mulai bosan mengelolanya, melainkan karena seluruh koleksi buku yang mereka punya sudah dibaca habis oleh adik-adik dan belum ada buku baru untuk dibaca.





Beberapa anak memang masih belum bisa membaca, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk menikmati buku. Oleh sebab itu, buku bergambar sangat dibutuhkan di sini karena adik-adik yang belum bisa membaca setidaknya masih bisa memahami isi buku lewat gambar.





3.       Rumah Belajar Sola Gratia, Wangga

Lokasi selanjutnya yang kami datangi adalah Rumah Belajar Sola Gratia yang terletak di Wangga. Rumah belajar ini dikelola oleh Kak Liny. Sayangnya saat kami datang ke Wangga, Kak Liny masih di kantor sehingga kami hanya bisa menitipkan buku pada orang rumah dan juga beberapa anak yang sedang berada di sana.



Dan kebetulan, dus buku yang sudah kami alokasikan untuk Wangga merupakan salah satu dus buku yang terpaksa kami tinggal di Jakarta karena sudah over bagasi. Dan karena ternyata Taman Baca Kawangu sedang tidak aktif, buku yang kami alokasikan untuk Kawangu yang sempat kami masukkan ke dalam tas agar bisa masuk ke dalam kabin akhirnya kami berikan untuk Wangga. Namun jumlahnya tidak terlalu banyak.


4.       Smart Home Popa

Smart Home Popa yang dikelola oleh pasangan Kak Vena dan Kak Hosea ini berada di daerah permukiman pemulung. Namun tidak perlu mempertanyakan bagaimana semangat adik-adik di sana, 2 – 3 km saja rela mereka tempuh dengan berjalan kaki untuk mencapai rumah belajar ini. Kebetulan letak Smart Home Popa ini ada di tengah tanjakan yang cukup curam, jadi setiap anak yang baru sampai sudah pasti datang dengan terengah-engah. Tapi semangat mereka memang luar bisa.

Saat kami memasuki halaman Smart Home Popa, sudah banyak adik-adik yang menunggu. Dan yang menjadi salah satu kehormatan untuk kami adalah adik-adik ini sudah berpakaian rapih, rapih sekali dalam menyambut kehadiran kami. Padahal tidak sedikit yang rumahnya jauh dari rumah belajar ini.

Karena ada cukup banyak adik-adik yang datang, maka kami memutuskan untuk bermain dulu dengan mereka. Lewat nyanyian kami belajar cara mencuci tangan yang benar, kami juga melakukan beberapa permainan yang yaaaahh lumayan bakar lemak kakak-kakaknya.






Kami juga diinfokan kalau dalam waktu dekat Kak Hosea akan melakukan pelatihan komputer untuk anak-anak muda di sana, dan tentu saja mereka akan membutuhkan buku-buku atau modul komputer untuk pemula. Dan tampaknya kami akan kembali membutuhkan bantuan teman-teman untuk merealisasikan rencana ini.





5.       Kampung Raja

Destinasi taman baca terakhir kami yaitu Rumah Belajar Kampung Raja. Rumah belajar ini dikelola oleh Kak Herlin. Sayangnya juga saat kami datang, Kak Herlin masih berada di kantor juga. Jadi saat itu kami hanya bisa bertemu dengan adik-adik yang sedang berada di sana.




Di sini kami hanya menyerahkan buku kepada adik-adik di sana, dan sebentar melihat kondisi rumah belajarnya. Rumah Belajar Kampung Raja ini cukup luas dan sederhana. Buku-buku disusun di lantai dengan beralaskan kardus bekas. Setelah berbincang sedikit dan berfoto dengan adik-adik di sana, kami pamit dan berarti selesai sudah “Tour Taman Baca” di Sumba Timur.



* * * * *

Pergi ke Sumba menjadi hal yang cukup besar bagi kami. Terlebih lagi kali ini ada 5 taman baca yang menjadi target kami. Untuk kesekian kalinya kami kembali ucapkan terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau membantu, baik dalam bentuk donasi buku, donasi dana, sebagai agen share info, maupun masukan-masukan untuk kami. Ucapan terima kasih juga kami haturkan untuk keluarga Kak Dedi yang bersedia menampung kami selama di Sumba, dan juga untuk teman-teman di Sumba yang selalu menemani kami saat di sana. Tim #DonasiBukuWaingapu dr berbagai daerah, terima kasih.

Kiranya berbahagialah Sumba punya banyak anak muda Sumba yang tidak bisa tinggal diam ketika melihat ada yang kurang di daerah tempat tinggalnya. Semoga setiap taman baca yang sudah ada tetap bertahan dan semakin besar, dan kelak ada lebih banyak lagi taman baca baru yang tersedia di lokasi-lokasi lain.

Menindaklanjuti beberapa dus buku yang masih tertinggal di Jakarta, kami berencana mengirimnya sekitar bulan Agustus. Sembari menunggu, kami akan membuka kembali donasi untuk menambah koleksi buku dan juga untuk membantu Smart Home Popa dalam merealisasikan rencana pelatihan komputer.

Berikut ini jenis buku yang dibutuhkan:
1. Buku cerita anak (bergambar)
2. Modul komputer untuk pemula

Karena investasi tidak hanya sebatas pada uang semata, bisa juga investasi anak bangsa. Yuk!
(m)



:: Tim DonasiBuku

0 comments:

Post a Comment