"Bila bisa menjadi bagian dari solusi, lalu kenapa masih hanya memaki?"

Oct 7, 2014

#BukuUntukSemau - Kenangan Manis di Pulau Mistis

9:09 AM Posted by Donasi Buku No comments



Minggu terakhir di Bulan September, akhirnya tim DonasiBuku berhasil menyerahkan amanat yang dititipkan oleh teman-teman donatur untuk Masyarakat Desa Uiboa. Total ada 13 dus buku yang nantinya akan dibagi dua untuk Taman Baca Pancaran Kasih dan perpustakaan di SD Negeri Uiboa, dan ada pula 3 dus tas dari Berrybenka untuk para ibu di Desa Uiboa.

Mbak Novi - Tim Malang & Surabaya - lebih dulu berangkat ke Kupang di hari Kamis tanggal 25 September, dan pada Jumat dini hari Tim Jakarta, Rida dan Metha, menyusul dari Jakarta. Selama di Kupang ketiga wanita ini tinggal di kediaman Mbak Arin yang merupakan salah satu Tim Kupang.

Setelah Arhul juga tiba di rumah Mbak Arin, Tim DonasiBuku lengkap sudah dan selain itu juga ada dua volunteer yang kelak berperan sebagai kuli angkut, yaitu Raches dan Yuan. Selagi menunggu kedatangan Om Almi dari TDI Kupang yang bersedia menyediakan transportasi buku-buku menuju Pelabuhan Tenau, Tim melakukan diskusi singkat mengenai teknis di lapangan nantinya dan tentu saja tidak lupa konon katanya harus ada selfie sebelum 'bertempur'.

The Team

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 11 dari rumah Mbak Arin menuju Pelabuhan Tenau dan di sana kami dijemput Mama Ester, adik dari Bapak Kepala Desa Uiboa. Penyeberangan menuju Pelabuhan Semau membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Dan ternyata Pak Sef juga sudah menunggu di Pelabuhan Semau bersama dengan kendaraan yang akan mengantar kami dan buku-buku menuju Desa Uiboa.

Sekilas melepas pandang di Pulau Semau membuat kami merasa bahwa target yang kami tuju sudah tepat. Di balik tampilan eksotis dan jajaran pantai yang cantik luar biasa, kawasan ini begitu kering dan berdebu, jalan yang kami lalui pun sebagian besar masih berbatu dan belum diaspal. Jangan tanya mengenai transportasi umum, bahkan untuk menuju Desa Uiboa kami harus offroad dengan menggunakan...Pick Up. Iya, pick up.

Terik yang menyengat selama perjalanan dari Pelabuhan Semau sampai ke Desa Uiboa yang kami tempuh kurang lebih 1,5 jam, beberapa kali luruh dan seketika teduh oleh kekaguman kami terhadap cantiknya pantai-pantai yang ada. Sepertinya Tuhan sedang jatuh cinta saat memadu-padankan birunya langit dengan air laut yang turqoise dan hamparan pasir putih di sekeliling Pulau Semau.

Selama di Desa Uiboa, kami diperkenankan untuk tinggal di rumah keluarga Bapa Sef. Di rumah itu kami tidak dijamu sebagai tamu, kami diperlakukan dengan begitu hangat bagai keluarga yang sudah lama tidak bertemu.

Murid-murid SD Uiboa

Keesokan harinya, yaitu hari Sabtu 27 September, Kepala Sekolah SD Negeri Uiboa ingin bertemu kami untuk membicarakan beberapa hal. Ternyata pihak sekolah juga masih membutuhkan buku pendamping sebagai bahan referensi untuk siswa-siswanya. Karena bagi kami, tak peduli dimana buku tersebut akan ditempatkan, asalkan buku-buku dirawat baik dan anak-anak ataupun warga bisa mengakses buku-buku tersebut dengan mudah, maka teknis pembagian buku kami serahkan pada kebijakan Pak Sef dan Bapak Kepala Sekolah.

Sesi Menulis Surat

Selepas bincang dengan Kepala Sekolah, kami mengajak beberapa siswa ikut dengan kami untuk sesi tulis surat di tepi Pantai Liman. Yang menarik adalah, ada satu anak yang masih belum lancar menulis, namanya Natalia. Dengan bimbingan Rida, Natalia yang pada dasarnya memiliki daya serap yang cepat akhirnya bisa menulis huruf A - Z. Sepulang dari pantai, Natalia bercerita dengan riang kepada Bapa Sef kalau sekarang dia sudah bisa menulis, dan dia mau ibu guru tetap tinggal saja di Semau supaya Natalia cepat pintar. Keinginan sederhana yang menghangatkan hati kami namun belum bisa kami penuhi.


Natalia

Pada hari ketiga di Pulau Semau, Bapak Penasihat DonasiBuku a.k.a Mas Bolang bersama Kak Inda akhirnya datang juga bersama dengan rombongan teman-teman dari Tapaleuk Ukur Kaki Kupang. Acara dilaksanakan di ruangan PAUD dan diawali dengan sedikit belajar sambil bernyanyi dan bermain dengan adik-adik. Tidak lama, dus-dus berisi buku dibuka dan adik-adik bebas memilih buku apa saja yang ingin mereka baca. Setelah anak-anak puas dengan buku-bukunya, giliran para ibu dipersilahkan memilih tas hasil donasi dari Berrybenka.



Hari yang hingar bingar penuh sukacita itu bagai mengisi penuh rongga hati sebagai penawar letih yang kami lalui di tiga bulan persiapan project ini. Segala rasa nyaris putus asa, segala letih tak terkira, segala daya upaya mengusahakan biaya pengiriman, dan segala tetek-bengek lainnya seketika sirna ditelan binar mata anak-anak yang mulai menikmati perjalanan imajinernya melalui buku.

Segala rasa cinta kami teteskan di setiap buku, doa dan harapan pun kami selipkan di sela-selanya. Kali ini kami menabur mimpi, besar harapan kami teman-teman di Kupang bisa melanjutkan garapan ini supaya kelak mereka bisa memetik mimpinya.

Dan kembali kami hanya bisa menghaturkan ucapan terima kasih untuk banyak pihak yang sudah membantu, yang tidak sanggup kami jabarkan satu persatu. Karena tanpa dukungan dari kalian, DonasiBuku tidak akan sanggup melangkah sejauh ini. Mari terus kita bersinergi merapatkan barisan, menggulung lengan baju dan mulai turun tangan. Karena bila bisa menjadi bagian dari solusi, kenapa masih hanya memaki?

Siapa yang sangka DonasiBuku bisa menjangkau pulau yang menurut banyak orang cukup mistis ini, dengan segala peringatan untuk berhati-hati dan banyak berdoa tiap kali kami bercerita akan mengunjungi daerah ini.

Nyatanya, ada kenangan manis yang kami ukir di pulau yang mereka bilang mistis.
(m)




::Tim DonasiBuku



0 comments:

Post a Comment