"Bila bisa menjadi bagian dari solusi, lalu kenapa masih hanya memaki?"

Apr 21, 2016

Project #6: DonasiBukuFlores

5:12 PM Posted by Donasi Buku 1 comment

Flores is one of the Lesser Sunda Island, begitulah tulisan yang tertera jika kita mengakses laman Wikipedia. Tidak dipungkiri lagi, daratan seluas 14,300 km persegi itu adalah salah satu pulau yang menawarkan pemandangan yang aduhai.

Tapi siapa sangka, tidak sedikit dari jumlah desa disana yang masih tertinggal, khususnya di bidang pendidikan. Hal inilah yang membuat tim #DonasiBuku memutuskan untuk menjadikan flores sebagai project ke-6, sebut saja #DonasiBukuFlores.
Rabu (23/03/2016), tim #DonasiBukuFlores dari Jakarta yang beranggotakan lima orang yaitu Rida, Bayu, Rama, Mamaz, dan Neyni (Metha-nya gak ikut karena lagi sibuk ngurus negara) mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, Kupang. Kami membawa 20 dus, total beratnya kira-kira 240 kg yang akan dibagikan ke Pulau Semau, Tanjung Bunga, Lembata, dan Riung.
Perpustakaan SD Negeri Uiboa - Pulau Semau

Setibanya di El Tari, kami dijemput oleh seorang kerabat yang sebelumnya ikut membantu project #DonasiBukuSemau. Kami memanggilnya Kaka Boy. Tak berlama-lama, kami menuju Pelabuhan Tenau kemudian menyewa sebuah perahu untuk menyeberang ke Pulau Semau. Hanya 30 menit, sampailah kami di Pelabuhan Semau.
Disana sudah menunggu seorang lelaki paruh baya, aduh saya lupa nama bapak itu, yang pasti bukan Pak Sef si Kepala Desa Uiboa yang menyambut kedatangan tim #DonasiBukuSemau sebelumnya. Kami menaiki pick-up. Untuk sampai di Desa Uiboa, setidaknya memakan waktu hampir dua jam. Tapi durasi perjalanan di medan yang berdebu dibayar lunas sama pemandangan pantai yang didapat.
Sesampainya disana, kami langsung menuju SD Negeri Uiboa. Dari kejauhan terlihat murid-murid berkumpul di halaman sekolah mereka yang seadanya tersebut. Mereka antusias menyambut kedatangan tim #DonasiBukuFlores meskipun tengah diliburkan karena menyambut Paskah.

Bermain-main dgn adik SD Uiboa

Begitu turun dari Pick-up yang kami naiki, senyum sapa nan semringah menyambut hentakan kaki kami di tanah. Ya, dia adalah Pak Sef. Terlihat raut wajah yang begitu bahagia darinya dan juga murid-murid melihat kedatangan tim #DonasiBukuFlores kali ini.
Kami pun mulai menyerahkan titipan dari para donatur pada murid-murid yang sudah menunggu. Lewat beberapa permainan diiringi lantunan suara nan merdu dari mereka, proses penyerahan pun berlangsung penuh suka cita.
Tapi sangat disayangkan kami tidak bisa berlama-lama di SD Negeri Uiboa ini. Selain karena sudah sore, kami harus kembali ke Kupang karena keesokan paginya berangkat menuju Maumere. Kami pun berpamitan dengan Pak Sef beserta keluarganya, para murid, dan beberapa orang tua murid yang juga menyempatkan diri datang ke sekolah hari itu. Singkat memang, tapi sangat berbekas di hati.
Tanjung Bunga dan Lembata
Kamis (24/03/2016) pagi, kami bergegas menuju El Tari. Begitu sampai, kami disambut dengan antrean yang mengular para penumpang Kalstar. Maklum maskapai kecil, gak bisa chek-in online. Dan Luar biasanya, hanya ada satu orang yang bertugas melayani penumpang kala itu.
Akhirnya kami menaiki pesawat. Gak lama, cuma 30 menit kami su sampai (gaya orang timur kalau bicara) di Bandara Maumere. Disana sudah menunggu Kaka Valentino Luis. Doi ini kontributornya National Geographic lho. Kami menyempatkan diri untuk berbincang cukup lama dengan Kak Valentino ini. Kira2 ada dua jam, sembari menunggu mobil jemputan (baca:carteran) datang.

Si Mobil akhirnya datang. Kami pun bergerak meninggalkan Bandara Mauemere menuju rumah Kak Valentino. Disana, kami menyerahkan secara simbolis titipan donatur untuk disalurkan ke daerah Tanjung Bunga dan Lembata. Kenapa simbolis? Karena titipan donatur untuk dua daerah tersebut akan dibarengin ama kegiatan tim Shoes for Flores bulan Mei 2016 nanti.

Penyerahan simbolis DonasiBuku ke Kak Valentino
Tidak terasa sudah siang menjelang sore. Kami pun berpamitan dengan Kak Valentino dan mencari tempat untuk beristirahat memejamkan mata sejenak. Karena besok pagi, tim #DonasiBukuFlores akan menuju Riung.

Sekolah Kampung Damu - Riung
Jumat (25/03/2016) pagi, kami bertemu dengan Arhul. Janjian di Bandara Ende. Arhul ini bagian dari tim #DonasiBuku juga. Orangnya super sibuk. Kesehariannya ngurusin negara, sebelas duabelas sama Metha. Tapi di tengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk membantu proses pengiriman titipan donatur ke Kampung Damu.
Arhul yang nyariin kami kendaraan dan mentraktir makan siang di sebuah sebuah RM Padang (yang masak asli Pariaman dan RM Padang pertama di kota Ende). Sembari santap siang, kami sempat menyaksikan arak-arakan masyarakat Ende yang lagi ngerayain hari raya Paskah.

Sebagian Tim #DonasiBuku
Perut su kenyang, mobil pick-up yang bagian belakangnya ditutupin terpal pun su siap berangkat. Tapi sayang, Arhul tidak bisa ikut ke Kampung Damu. Kami pun berpamitan.

Berniat hendak tidur, tapi yang namanya naik pick-up penuh dus buku dan barang bawaan pribadi tidak memungkinkan kami untuk memejamkan mata. Tapi kami pun merasa sangat beruntung, karena lebih dari 1/3 perjalanan ke Kampung Damu, Riung ini menyisir pantai. Lagi-lagi kami dibuat takjub dengan keindahan alam Flores.

Pick-Up yg membawa Tim #DonasiBuku ke Riung
Akhirnya, setelah lima jam perjalanan, tim #DonasiBukuFlores sampai juga di Riung. Kami disambut oleh hujan. Iya hujan! Sempat panik karena tidak semua bagian belakang pick-up tertutup rapi oleh terpal. Beberapa dus pun kena rembesan air hujan. Tapi untungnya buku-buku di dalamnya tidak basah.
Hujan yang tak lama itu pun reda. Kami kemudian bertemu dengan Kak Anto dan Kak Dito. Nah, dua orang ini artisnya Riung nih. Tidak ada yang tidak mengenal keduanya. Mereka pun mengantar tim #DonasiBukuFlores ke sebuah SD di Kampung Damu. Kira-kira 30 menit dari Riung.
Lima menit sebelum tiba di lokasi, belasan anak berlarian menyambut kedatangan tim #DonasiBukuFlores. Lagi-lagi, kami melihat antusiasme yang besar dari anak-anak di Kampung Damu. Dan sesampainya di sana, anak-anak yang tadinya belasan, jumlahnya bertambah jadi puluhan. Kalau tidak salah ingat, ada 52 anak yang datang ke sekolah waktu itu.
Seperti biasa, titipan donatur pun kami bagikan lewat sebuah permainan. Senang bisa menyampaikan amanat donatur, tapi di lain sisi kami sedih karena di kampung ini belum ada listrik. Tapi rasa sedih itu dihapus dengan senyum merekah bak bunga mawar mekar dari setiap anak yang sudah menerima titipan para donatur. 

Priceless Smile :-)
Sayangnya, kebersamaan tim #DonasiBukuFlroes dengan anak-anak Kampung Damu tidak berlangsung lama. Karena tanpa disadari, langit pun perlahan menjadi gelap. Hal yang membuat kami dipaksa untuk berpamitan meninggalkan mereka dan kembali ke Riung sebelum pulang ke Jakarta.

===
Pergi jauh-jauh ke Flores menjadi hal yang berarti bagi kami tim #DonasiBukuFlores. Dan tak henti-hentinya kami menyampaikan rasa terima kasih yang besar untuk setiap donatur yang membantu, baik dalam bentuk donasi buku, donasi dana, donasi info, donasi doa, dan lainnya.
Ucapan terima kasih juga kami alamatkan pada Kak Valentino, Kak Anto, Kak Dito, bapak sopir pick-up yang mengantar kami dari Pelabuhan Semau ke SD Negeri Uiboa (PP), pak Sef beserta keluarga, dan Pak Pafan, sopir pick-up Ende ke Kampung Damu Riung.
Sekali lagi kami, tim #DonasiBukuFlores sampaikan bahwa bila bisa menjadi bagian dari solusi, lalu kenapa masih hanya memaki. Sampai jumpa di project #DonasiBuku berikutnya.

Special Thanks to : 




Jun 15, 2015

Project #5: Waingapu

11:18 AM Posted by Donasi Buku No comments
Sumba, bukan Sumbawa, merupakan salah satu pulau besar yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dua bulan yang lalu, project ke 5 kami yaitu #DonasiBukuWaingapu akhirnya membawa kami menjejak tanah Sumba. Setelah di hari sebelumnya kami terpaksa harus membeli tiket pesawat komersil karena terjadi miskomunikasi terkait reschedule penerbangan pesawat Hercules yang kami harapkan bisa membawa kami dan buku-buku.

Dan percayalah, over bagasi lebih dari 100 kg sungguh tidak ramah pada kesehatan degup keuangan kami. Jadi dengan sangat terpaksa, kami harus meninggalkan beberapa dus buku dan hanya bisa membawa sekitar 4 dus dan 1 tas full buku agar bisa masuk kabin pesawat.

Kamis, 26 Maret 2015, Tim #DonasiBukuWaingapu dari Jakarta yaitu Metha, Rida, dan Bayu tiba di Sumba sekitar pukul 12.00 WITA. Sesampainya di Bandara Umbu Mehang Kunda, ada seorang petugas bandara yang (mohon maaf) agak lupa namanya yang dengan senang hati menemani kami yang masih harus menunggu dijemput Vany dan Kak Jonathan. Selain beliau ada juga Kak Bambang, seorang teman dari teman (sebut saja temanception) yang juga menemani kami berbincang.

Seperti yang sudah pernah kami ceritakan di sini, ada 6 taman baca yang menjadi target project kami kali ini. Namun ternyata Taman Baca Kawangu saat ini sedang non aktif sehingga kemarin kami hanya mendatangi 5 taman baca. Dan berikut ini paparan singkatnya.


1.       Taman Baca Namu Angu

Sesampainya kami di Bandara Umbu Mehang Kunda, sore harinya kami langsung menuju Taman Baca Namu Angu. Taman baca ini diinisiasi oleh pemuda-pemudi Sumba yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Sumba (GPS). Dan bisa dikatakan Taman Baca Namu Angu ini merupakan pelopor berdirinya rumah baca di Sumba Timur.




Taman Baca Namu Angu dikelola oleh Vany karena memang taman baca ini ada di rumahnya. Sore itu saat kami datang, kami bisa melihat antusiasme adik-adik dalam membaca buku. Satu persatu dari mereka datang meramaikan sore. Ada yang datang membawa buku untuk dikembalikan dan ditukar dengan buku lainnya yang belum mereka baca, beberapa hanya membaca buku di tempat, ada juga yang menggambar, beberapa anak juga terlihat asik bermain.

Sore di Taman Baca Namu Angu begitu ramai, taman baca terlihat begitu hidup. Hanya saja karena kami agak tepar karena belum tidur dari malam sebelumnya, jadilah dokumentasi di Taman Baca Namu Angu sangat sedikit.







2.       Taman Baca Kampung Barat

Keesokan harinya barulah kami mulai mendatangi keempat taman baca lainnya. yang pertama kami kunjungi adalah Taman Baca Kampung Barat. Taman baca ini dikelola oleh Kak Ma’a dan suami. Saat kami datang hujan sedang turun dengan derasnya, namun di teras rumah Kak Ma’a kami melihat sudah ada beberapa anak yang menunggu kedatangan kami, atau mungkin menunggu kedatangan koleksi buku baru mereka.

Kak Ma’a bercerita pada kami, taman baca ini sempat agak tersendat. Bukan karena Kak Ma’a dan suami mulai bosan mengelolanya, melainkan karena seluruh koleksi buku yang mereka punya sudah dibaca habis oleh adik-adik dan belum ada buku baru untuk dibaca.





Beberapa anak memang masih belum bisa membaca, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk menikmati buku. Oleh sebab itu, buku bergambar sangat dibutuhkan di sini karena adik-adik yang belum bisa membaca setidaknya masih bisa memahami isi buku lewat gambar.





3.       Rumah Belajar Sola Gratia, Wangga

Lokasi selanjutnya yang kami datangi adalah Rumah Belajar Sola Gratia yang terletak di Wangga. Rumah belajar ini dikelola oleh Kak Liny. Sayangnya saat kami datang ke Wangga, Kak Liny masih di kantor sehingga kami hanya bisa menitipkan buku pada orang rumah dan juga beberapa anak yang sedang berada di sana.



Dan kebetulan, dus buku yang sudah kami alokasikan untuk Wangga merupakan salah satu dus buku yang terpaksa kami tinggal di Jakarta karena sudah over bagasi. Dan karena ternyata Taman Baca Kawangu sedang tidak aktif, buku yang kami alokasikan untuk Kawangu yang sempat kami masukkan ke dalam tas agar bisa masuk ke dalam kabin akhirnya kami berikan untuk Wangga. Namun jumlahnya tidak terlalu banyak.


4.       Smart Home Popa

Smart Home Popa yang dikelola oleh pasangan Kak Vena dan Kak Hosea ini berada di daerah permukiman pemulung. Namun tidak perlu mempertanyakan bagaimana semangat adik-adik di sana, 2 – 3 km saja rela mereka tempuh dengan berjalan kaki untuk mencapai rumah belajar ini. Kebetulan letak Smart Home Popa ini ada di tengah tanjakan yang cukup curam, jadi setiap anak yang baru sampai sudah pasti datang dengan terengah-engah. Tapi semangat mereka memang luar bisa.

Saat kami memasuki halaman Smart Home Popa, sudah banyak adik-adik yang menunggu. Dan yang menjadi salah satu kehormatan untuk kami adalah adik-adik ini sudah berpakaian rapih, rapih sekali dalam menyambut kehadiran kami. Padahal tidak sedikit yang rumahnya jauh dari rumah belajar ini.

Karena ada cukup banyak adik-adik yang datang, maka kami memutuskan untuk bermain dulu dengan mereka. Lewat nyanyian kami belajar cara mencuci tangan yang benar, kami juga melakukan beberapa permainan yang yaaaahh lumayan bakar lemak kakak-kakaknya.






Kami juga diinfokan kalau dalam waktu dekat Kak Hosea akan melakukan pelatihan komputer untuk anak-anak muda di sana, dan tentu saja mereka akan membutuhkan buku-buku atau modul komputer untuk pemula. Dan tampaknya kami akan kembali membutuhkan bantuan teman-teman untuk merealisasikan rencana ini.





5.       Kampung Raja

Destinasi taman baca terakhir kami yaitu Rumah Belajar Kampung Raja. Rumah belajar ini dikelola oleh Kak Herlin. Sayangnya juga saat kami datang, Kak Herlin masih berada di kantor juga. Jadi saat itu kami hanya bisa bertemu dengan adik-adik yang sedang berada di sana.




Di sini kami hanya menyerahkan buku kepada adik-adik di sana, dan sebentar melihat kondisi rumah belajarnya. Rumah Belajar Kampung Raja ini cukup luas dan sederhana. Buku-buku disusun di lantai dengan beralaskan kardus bekas. Setelah berbincang sedikit dan berfoto dengan adik-adik di sana, kami pamit dan berarti selesai sudah “Tour Taman Baca” di Sumba Timur.



* * * * *

Pergi ke Sumba menjadi hal yang cukup besar bagi kami. Terlebih lagi kali ini ada 5 taman baca yang menjadi target kami. Untuk kesekian kalinya kami kembali ucapkan terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau membantu, baik dalam bentuk donasi buku, donasi dana, sebagai agen share info, maupun masukan-masukan untuk kami. Ucapan terima kasih juga kami haturkan untuk keluarga Kak Dedi yang bersedia menampung kami selama di Sumba, dan juga untuk teman-teman di Sumba yang selalu menemani kami saat di sana. Tim #DonasiBukuWaingapu dr berbagai daerah, terima kasih.

Kiranya berbahagialah Sumba punya banyak anak muda Sumba yang tidak bisa tinggal diam ketika melihat ada yang kurang di daerah tempat tinggalnya. Semoga setiap taman baca yang sudah ada tetap bertahan dan semakin besar, dan kelak ada lebih banyak lagi taman baca baru yang tersedia di lokasi-lokasi lain.

Menindaklanjuti beberapa dus buku yang masih tertinggal di Jakarta, kami berencana mengirimnya sekitar bulan Agustus. Sembari menunggu, kami akan membuka kembali donasi untuk menambah koleksi buku dan juga untuk membantu Smart Home Popa dalam merealisasikan rencana pelatihan komputer.

Berikut ini jenis buku yang dibutuhkan:
1. Buku cerita anak (bergambar)
2. Modul komputer untuk pemula

Karena investasi tidak hanya sebatas pada uang semata, bisa juga investasi anak bangsa. Yuk!
(m)



:: Tim DonasiBuku

Nov 18, 2014

Tim #DonasiBukuWaingapu

11:14 AM Posted by Donasi Buku , , , , 2 comments
Seperti yang sudah pernah kami sampaikan, tim db akan terus berubah secara dinamis, tergantung pada project yang sedang berjalan. Kali ini tim #DonasiBukuWaingapu baru ada di 4 kota yaitu Jakarta, Malang, Sumba, dan Kupang

Dan sekarang saatnya bagi kami untuk memperkenalkan tim #DonasiBukuWaingapu.

1. JAKARTA
  • Rida     : 0812.8666.8825
  • Metha   : 0857.1169.0917

2. MALANG
  • Novi     : 0817.9667.735

3. SUMBA
  • Vani     : 0852.3826.5890
  • Herlin   : 0852.3728.2928

4. KUPANG
  • Inda     : 0857.3718.5559
  • Arin     : 0811.3830.233
  • Arhul   : 0821.4568.0333

Bila masih ada yang masih belum jelas, info lebih detailnya teman-teman bisa hubungi contact person secara langsung.

Bila teman-teman masih belum bisa atau belum ingin membantu dalam bentuk mendonasikan buku, masih ada kok cara yang jauh lebih mudah untuk membantu. Bantu mempublikasikan info ini sudah bisa cukup membantu kami.

Di bawah ini ada poster yang bisa teman-teman pakai untuk membantu menyebarluaskan info mengenai pengumpulan buku. Poster juga bisa di download dari sini.





Sekali lagi, silahkan pilih sendiri caramu membantu. Apapun itu, kami berterima kasih.




::DonasiBuku

Project #5: #DonasiBukuWaingapu

11:11 AM Posted by Donasi Buku , , , No comments
Setelah menyelesaikan project #BukuUntukSemau, kami merasa harus segera bergerak lagi untuk project berikutnya. Kali ini kami masih akan bergerak di wilayah Indonesia bagian timur dan juga masih di daerah Nusa Tenggara Timur. Lokasi yang menjadi target db berikutnya adalah di daerah Waingapu, Sumba Timur.

Kali ini target rumah baca yang akan disupply tidak hanya 1, melainkan ada 6 rumah baca. Hampir semuanya tidak memiliki ruangan khusus, hanya memanfaatkan teras rumah pengurusnya sebagai rumah baca.

Berikut ini sedikit gambaran mengenai masing-masing rumah baca.

1. Smart House Popa
 
Smart House Popa berada di Popa, Kelurahan Hambala. Berdasarkan info yang kami terima, daerah dimana rumah belajar ini berdiri merupakan daerah permukiman pemulung. Rumah baca ini masih belum memiliki ruangan khusus, karena hanya menggunakan halaman rumah pengurusnya.

Koleksi buku yang dimiliki taman baca ini baru ada sekitar 30 eksemplar dan jumlah pengunjung per hari sekitar 15 orang. Karena konsep dari Smart House Popa ini adalah tempat belajar, maka buku aktivitas perlu diperbanyak lagi di sini.


2. Rumah Belajar Sola Gratia
Rumah Belajar Sola Gratia berada di daerah Wangga. Sama seperti Smart House Popa, rumah belajar ini pun masih hanya memakai teras rumah sebagai tempat untuk melaksanakan aktivitasnya.

Kegiatan di Rumah Belajar Sola Gratia

Pengurus di sini juga masih membutuhkan volunteer untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Jadi bagi teman-teman yang tinggal di sekitar Rumah Belajar Sola Gratia, bisa banget untuk bantu-bantu kegiatan di rumah belajar ini.


3. Taman Baca Kawangu

Taman Baca Kawangu sama seperti taman baca sebelumnya masih belum memiliki bangunan tersendiri, hanya memakai teras rumah pengurusnya. Pengunjung yang datang pun masih dari sekitarnya saja, dan kebanyakan dari mereka anak-anak.


4. Rumah Belajar Kampung Raja

Rumah Belajar Kampung Raja baru berjalan selama 7 bulan. Rumah belajar ini ternyata memiliki motto "Njaka ta mbuhang ma hamu, mbaca buku mbadi", yang artinya kalau mau maju harus baca buku.

Rumah Belajar Kampung Raja


Rumah belajar ini setiap harinya didatangi sekitar 20 orang. Selain koleksi buku yang harus ditambah, ada sedikit kekurangan lainnya yaitu kurangnyaa sarana prasarana berupa rak buku. Karena belum memiliki rak buku, untuk saat ini seluruh koleksi buku hanya disusun di lantai.

Rumah Belajar Kampung Raja   
5. Rumah Belajar Kampung Barat
 
Rumah belajar yang satu ini dikelola oleh masyarakat dan pemuda setempat. Pengunjung yang datang ke tempat ini pun lebih bervariatif, dari anak-anak hingga orang dewasa.


6. Taman Baca Namu Angu
 
Taman baca yang berlokasi di Kelurahan Kambajawa ini bisa dikatakan sebagai pemantik berdirinya taman baca lainnya di daerah Sumba Timur. Maka tidak aneh bila anggota yang terdaftar sudah ada 137 orang dengan koleksi buku sekitar 200 buku.
  Taman Baca Namu Angu  
    Taman Baca Namu Angu

Bila dibandingkan dengan kelima taman baca lainnya, memang jumlah koleksi buku yang ada terlihat sudah banyak. Namun bila dibandingkan dengan jumlah anggota, koleksi buku tersebut masih kurang. Pengunjung yang sering datang biasanya anak-anak, remaja, maupun para ibu.


*  *  *  *  *


Kesadaran anak-anak muda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Sumba (GPS) akan pentingnya sebuah pendidikan, dalam hal ini khususnya membaca, menjadi hal yang memicu berdirinya keenam perpustakaan ini. Sekarang yuk kita saling bergandengan tangan, sama-sama memuaskan minat baca anak-anak dan masyarakat di sekitar rumah baca, sama-sama semakin meningkatkan lagi minat baca dengan membuat koleksi buku di sana jadi semakin banyak dan variatif.

Bersamaan dengan naiknya harga BBM hari ini, semoga kita tidak hanya ingat untuk menggerutu, tetapi malah semakin ingat bagaimana caranya mendukung pendidikan anak-anak yang jauh dari hingar-bingar ibukota, Salah satu cara mudahnya adalah dengan donasi buku.

Semua buku pada dasarnya bisa didonasikan sejauh tidak mengandung konten pornografi dan kekerasan. Namun berikut ini adalah buku-buku yang kami prioritaskan.

  1. Buku cerita anak
  2. Ensiklopedia
  3. Buku beternak/berkebun
  4. Novel remaja
  5. Majalah parenting

Yuk teman-teman yang memiliki buku yang sudah tidak lagi dibaca, yang kondisinya masih baik dan masih layak baca, mari kita jadikan buku 'nganggur' itu jadi lebih bermanfaat dengan mendonasikannya untuk anak-anak di Waingapu.

Jadi, bila bisa jadi bagian dari solusi, kenapa masih hanya memaki?





:: Donasi Buku


Oct 27, 2014

Pembatalan Project #4: Renovasi Perpustakaan Gedhek

12:12 PM Posted by Donasi Buku No comments
Beberapa minggu yang lalu, kami sudah mengumumkan perihal dimulainya Project #4 : Renovasi Perpustakan Gedhek. Namun semakin ke sini ternyata rencana berubah. Yang awalnya kami ketahui hanya akan ada renovasi, berubah jadi relokasi perpustakan, seperti yang bisa dibaca di chat screenshot di bawah ini.



Rencananya akan didirikan bangunan baru yang nantinya akan berfungsi sebagai perpustakaan dan pendopo untuk tempat berkumpul warga. Dan untuk melakukan relokasi tidak bisa langsung asal membangun karena ternyata untuk mendirikan bangunan baru tersebut dibutuhkan ijin dari Perhutani dan kemungkinan waktunya sangat tentatif.

Tentatifnya rencana dan waktu untuk relokasi ini ditakutkan akan memperlambat project DonasiBuku ke tempat lain, sehingga kami memutuskan untuk membatalkan project ini supaya bisa fokus dengan project lainnya.

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada teman-teman yang sudah membantu share info Project Renovasi Perpustakaan Gedhek, dengan ini Project #4 : Renovasi Perpustakaan Gedhek kami batalkan.
(m)



Horat Kami,
:: Tim DonasiBuku




Oct 7, 2014

Project #4 - Renovasi Perpustakaan Gedhek

10:10 AM Posted by Donasi Buku No comments




Ada yang masih ingat dengan Perpustakaan Gedhek di Kondang Merak yang rak bukunya sudah kita penuhi dengan buku beberapa bulan yang lalu?
Supaya ingat lagi atau mungkin bila belum tau, silahkan buka tautan ini.

Secara kasat mata, kita bisa lihat betapa sederhananya perpustakaan ini. Dengan dinding gedhek yang sudah mulai berlubang di sana sini, mungkin bila dilihat sepintas tidak akan ada yang menyadari ada setumpuk ilmu yang tertata rapi di dalamnya.

Musim hujan sebentar lagi akan datang. Kondisi Perpustakaan Gedheg yang mulai penuh lubang dikhawatirkan tidak bisa setangguh tahun-tahun sebelumnya dalam menghadapi hujan. Demi mengantisipasi rusaknya koleksi buku karena terkena bocoran hujan, kami bermaksud merenovasi bangunan perpustakaan ini. Selain menghindari kebocoran, kami juga berharap anak-anak maupun warga Kondang Merak bisa semakin nyaman dalam menikmati koleksi buku di perpustakaan ini.

Project DonasiBuku kali ini memang agak sedikit berbeda. Tidak seperti biasanya dimana kami mengumpulkan buku-buku untuk menambah koleksi perpustakaan atau taman baca, project kali ini kami mengajak teman-teman sekalian untuk membantu kami memberikan supply bahan-bahan bangunan yang diperlukan dalam renovasi ini.

Di bawah ini merupakan perbincangan dengan Om Tyo mengenai rencana renovasi Perpustakaan Gedhek. Dinding perpustakaan akan dipertahankan menggunakan gedhek namun diberikan treatment khusus supaya tidak cepat rusak.

Rencana Renovasi Perpustakaan Gedhek

Direncanakan, pada bulan November proses renovasi sudah bisa dimulai. Untuk itu, bahan-bahan bangunan yang kami butuhkan untuk merealisasikan hal ini adalah
  • Semen
  • Pasir hitam
  • Batu bata
  • Kayu untuk kuda-kuda dan rangka atap
  • Gedhek / anyaman bambu
  • Kusen + pintu
  • Genteng


Seperti biasa, bagi teman-teman yang ingin membantu bisa hubungi contact person di bawah ini:

Jakarta
  • Rida      : 0812.8666.8825
  • Metha   : 0857.1169.0917

Malang
  • Andik  : 0812.5308.5344
  • Novi    : 0817.9667.735


Selamat membantu!
(m)



::Tim DonasiBuku



#BukuUntukSemau - Kenangan Manis di Pulau Mistis

9:09 AM Posted by Donasi Buku No comments



Minggu terakhir di Bulan September, akhirnya tim DonasiBuku berhasil menyerahkan amanat yang dititipkan oleh teman-teman donatur untuk Masyarakat Desa Uiboa. Total ada 13 dus buku yang nantinya akan dibagi dua untuk Taman Baca Pancaran Kasih dan perpustakaan di SD Negeri Uiboa, dan ada pula 3 dus tas dari Berrybenka untuk para ibu di Desa Uiboa.

Mbak Novi - Tim Malang & Surabaya - lebih dulu berangkat ke Kupang di hari Kamis tanggal 25 September, dan pada Jumat dini hari Tim Jakarta, Rida dan Metha, menyusul dari Jakarta. Selama di Kupang ketiga wanita ini tinggal di kediaman Mbak Arin yang merupakan salah satu Tim Kupang.

Setelah Arhul juga tiba di rumah Mbak Arin, Tim DonasiBuku lengkap sudah dan selain itu juga ada dua volunteer yang kelak berperan sebagai kuli angkut, yaitu Raches dan Yuan. Selagi menunggu kedatangan Om Almi dari TDI Kupang yang bersedia menyediakan transportasi buku-buku menuju Pelabuhan Tenau, Tim melakukan diskusi singkat mengenai teknis di lapangan nantinya dan tentu saja tidak lupa konon katanya harus ada selfie sebelum 'bertempur'.

The Team

Perjalanan kami dimulai sekitar pukul 11 dari rumah Mbak Arin menuju Pelabuhan Tenau dan di sana kami dijemput Mama Ester, adik dari Bapak Kepala Desa Uiboa. Penyeberangan menuju Pelabuhan Semau membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Dan ternyata Pak Sef juga sudah menunggu di Pelabuhan Semau bersama dengan kendaraan yang akan mengantar kami dan buku-buku menuju Desa Uiboa.

Sekilas melepas pandang di Pulau Semau membuat kami merasa bahwa target yang kami tuju sudah tepat. Di balik tampilan eksotis dan jajaran pantai yang cantik luar biasa, kawasan ini begitu kering dan berdebu, jalan yang kami lalui pun sebagian besar masih berbatu dan belum diaspal. Jangan tanya mengenai transportasi umum, bahkan untuk menuju Desa Uiboa kami harus offroad dengan menggunakan...Pick Up. Iya, pick up.

Terik yang menyengat selama perjalanan dari Pelabuhan Semau sampai ke Desa Uiboa yang kami tempuh kurang lebih 1,5 jam, beberapa kali luruh dan seketika teduh oleh kekaguman kami terhadap cantiknya pantai-pantai yang ada. Sepertinya Tuhan sedang jatuh cinta saat memadu-padankan birunya langit dengan air laut yang turqoise dan hamparan pasir putih di sekeliling Pulau Semau.

Selama di Desa Uiboa, kami diperkenankan untuk tinggal di rumah keluarga Bapa Sef. Di rumah itu kami tidak dijamu sebagai tamu, kami diperlakukan dengan begitu hangat bagai keluarga yang sudah lama tidak bertemu.

Murid-murid SD Uiboa

Keesokan harinya, yaitu hari Sabtu 27 September, Kepala Sekolah SD Negeri Uiboa ingin bertemu kami untuk membicarakan beberapa hal. Ternyata pihak sekolah juga masih membutuhkan buku pendamping sebagai bahan referensi untuk siswa-siswanya. Karena bagi kami, tak peduli dimana buku tersebut akan ditempatkan, asalkan buku-buku dirawat baik dan anak-anak ataupun warga bisa mengakses buku-buku tersebut dengan mudah, maka teknis pembagian buku kami serahkan pada kebijakan Pak Sef dan Bapak Kepala Sekolah.

Sesi Menulis Surat

Selepas bincang dengan Kepala Sekolah, kami mengajak beberapa siswa ikut dengan kami untuk sesi tulis surat di tepi Pantai Liman. Yang menarik adalah, ada satu anak yang masih belum lancar menulis, namanya Natalia. Dengan bimbingan Rida, Natalia yang pada dasarnya memiliki daya serap yang cepat akhirnya bisa menulis huruf A - Z. Sepulang dari pantai, Natalia bercerita dengan riang kepada Bapa Sef kalau sekarang dia sudah bisa menulis, dan dia mau ibu guru tetap tinggal saja di Semau supaya Natalia cepat pintar. Keinginan sederhana yang menghangatkan hati kami namun belum bisa kami penuhi.


Natalia

Pada hari ketiga di Pulau Semau, Bapak Penasihat DonasiBuku a.k.a Mas Bolang bersama Kak Inda akhirnya datang juga bersama dengan rombongan teman-teman dari Tapaleuk Ukur Kaki Kupang. Acara dilaksanakan di ruangan PAUD dan diawali dengan sedikit belajar sambil bernyanyi dan bermain dengan adik-adik. Tidak lama, dus-dus berisi buku dibuka dan adik-adik bebas memilih buku apa saja yang ingin mereka baca. Setelah anak-anak puas dengan buku-bukunya, giliran para ibu dipersilahkan memilih tas hasil donasi dari Berrybenka.



Hari yang hingar bingar penuh sukacita itu bagai mengisi penuh rongga hati sebagai penawar letih yang kami lalui di tiga bulan persiapan project ini. Segala rasa nyaris putus asa, segala letih tak terkira, segala daya upaya mengusahakan biaya pengiriman, dan segala tetek-bengek lainnya seketika sirna ditelan binar mata anak-anak yang mulai menikmati perjalanan imajinernya melalui buku.

Segala rasa cinta kami teteskan di setiap buku, doa dan harapan pun kami selipkan di sela-selanya. Kali ini kami menabur mimpi, besar harapan kami teman-teman di Kupang bisa melanjutkan garapan ini supaya kelak mereka bisa memetik mimpinya.

Dan kembali kami hanya bisa menghaturkan ucapan terima kasih untuk banyak pihak yang sudah membantu, yang tidak sanggup kami jabarkan satu persatu. Karena tanpa dukungan dari kalian, DonasiBuku tidak akan sanggup melangkah sejauh ini. Mari terus kita bersinergi merapatkan barisan, menggulung lengan baju dan mulai turun tangan. Karena bila bisa menjadi bagian dari solusi, kenapa masih hanya memaki?

Siapa yang sangka DonasiBuku bisa menjangkau pulau yang menurut banyak orang cukup mistis ini, dengan segala peringatan untuk berhati-hati dan banyak berdoa tiap kali kami bercerita akan mengunjungi daerah ini.

Nyatanya, ada kenangan manis yang kami ukir di pulau yang mereka bilang mistis.
(m)




::Tim DonasiBuku